Museum Bahari

616 Views 2 Comments

01-img_9550

Bangunan ini sejarah awal mulanya adalah sebagai pergudangan VOC,  jadi kalau kesini tidak heran jika melihat turis manca negara yang mayoritas dari Belanda, karena ini berhubungan dengan sejarah kejayaan VOC di masa itu.

Kalau mau tahu tentang sejarah bangunan ini, bisa baca sejarah tentang Museum Bahari di bawah ini,  yang ceritafoto dapatkan dari literatur yang ada di Museum Bahari, kalau  memang bosan baca sejarah silahkan loncat ke foto-foto dibawah untuk sekedar melihat view di museum Bahari.

Sejarah Museum Bahari

Ketika itu peningkatan kebutuhan perdagangan menyebabkan VOC mendirikan bangunan ini sebagai gudang rempah-rempah: pala dan lada; juga untuk komoditas lain seperti: teh, kopi, tekstil, serta hasil tambang, timah dan tembaga. Penempatannya di tepi Ci Liwung adalah bagian dari sistem pergudangan dan transportasi untuk mendukung sistem perdagangan. Di sisi timur Ci Liwung didirikan Gudang Timur (Oostzijdsche Pakhuizen), yang saat ini tinggal sisa-sisanya terpotong oleh pembangunan jalan tol; sedangkan di sisi baratnya terdapat empat bangunan beton, disebut Gudangbarat (Westzijdsche Pakhuizen), yang pada abad ke-18 ditambah dengan beberapa gudang kayu. Keberadaan gudang-gudang VOC ini adalah bagian dari pembuktian sejarah tentang perdagangan rempah-rempah, yang menjadi penyebab terjadinya kolonisasi di Indonesia.

Dibangun secara bertahap sejak 1652 hingga 1759, bangunan ini membawa ciri-ciri arsitektur sezaman dengan bangunan-banguan sejenis di Belanda. Sesuai fungsiny sebagai gudang, bangunan didirikan secara masif, dengan sedikit bukaan dan tapa teras. nelakangan dipasangteras kayu sekeliling bangunan, yang berfungsi sebagai alur jalan para penjaga. Gudang Barat memang ditempatkan sebagai bagian dari perbentengan Batavia, yaitu Benteng Zeeburg.

Saat ini bekas Gudang Barat VOC difungsikan sebagai Museum Bahari. Koleksinya terdiri dari tinggalan sejarah-budaya kebaharian Nusantara maupun spesimen kelautan Indonesia. Di sini dapat diperoleh informasi tentang sejarah naritim Nusantara, maupun melihat langsung bukti kesejarahan tentang kolonisasi Belanda serta pengaruh budayanya di Indonesia.

Kronologi Bangunan

1652, Pembangunan Westzijdsche Pakhuizen dan Oostzijdsche Pakhuizen olh VOC
1652-1759, Pengembangan Bangunan pergudangan oleh VOC
1942-1945, Gudang logistik tentara Jepang
>1954, Gudang PLN dan PTT
1976, Pemugaran oleh Pemda DKI Jakarta dan penetapan sebagai BCB
7 Juli 1977, Penetapan sebagai Museum Bahari

01-museum-bahari

Pada 1631, aliran Ciliwung yang semula berkelok-kelok, diluruskan, membentuk sebuah kanal besar yang lurus membujur dari selatan ke utara kota. Terusan inilah yg dalam peta-peta Batavia disebut De Groote Rivier atau Kali Besar. Kali Besar ini membelah Kota Batavia dan membaginya sama besarnya, perpanjangan Kali Besar ini ke arah utara langsung menyatus dengan terusan pelabuhan (havenkanaal). Seluruh bagian inilah yang merupakan pusat kesibukan pelayaran, perdagangan sekaligus Industrinya Batavia. Kali Besar pada saat itu merupakan Central Business and Industry District Batavia. Kapal-kapal dan perahu-perahu kecil dari berbagai wilayah Nusantara dan negara berlabuh di kedua tepian Kali Besar untuk melakukan kegiatan bongkar muat. Di sepanjang tepian timur dan barat Kali Besar, berdiri berderetan gudang-gudang serta bangunan-bangunan besar lainnya yang berkaitan dengan perdagangan dan keperluan perbekalan kapal.

Sebagai kawasan industri, di bagian paling utara Kali Besar terdapat galangan-galangan kapal (kapal kayu) baik yang dimiliki VOC maupun warga Cina untuk membuat dan memperbaiki kapal. Perusahaan-perusahaan besar pun berdiri di sepanjang Kali Besar. Selain itu, berdiri juga Spinhuys untuk kerajinan tenun-menenun. Selain diramikan oleh hiruk-pikuk kegiatan sejumlah pasar, terdapat pula pemukiman bagi golongan rendahan yang mayoritasnya adalah orang Portugis dan orang Cina. Di tepi timur dan barat Kali Besar, hampir seluruhnya ditempati orang Cina dalam bangunan rangkap, toko sekaligus rumah tinggal.

02-museum-bahari-batavia-tempodulu
Wajah Kota Batavia tempo dulu, mendapat julukan Ratu dari Timur (Koningen van Het Oosten)

Di dalam museum ini kita bisa membaca sejarah perkembangan Kota Batavia di masa ketika dikuasai oleh VOC, untuk teman-teman yang ingin mengetahui kaitan sejarah Kota Batavia dengan Pelabuhan Sunda Kelapa wajib untuk berkunjung kesini, karena di masa itu pelabuhan Sunda Kelapa memegang peranan penting dalam perkembangan Batavia. Dan untuk lebih lengkap sejarah Kota Batavia, bisa mengunjungi Museum Fatahilah, yang dulunya adalah Kantor Gubernur pada masa itu, sungguh menarik bukan sejarah kota Jakarta yang dulunya  Batavia, kalau kita lihat foto Batavia tersebut, serasa kita ingin melihat ke masa lampau, bagaimana menawannya, rapi dan tertata dengan baik.

Jike kembali pada masa itu, Di bawah kekuasaan VOC Sunda kelapa berkembang lebih pesat menjadi sebuah pelabuhan transit international dan batavia menjadi bandar terpenting di Asia. Kala itu Batavia telah menjadi urat nadi jaringan perniagaan tang terentang dari Jepang sampai Afrika dan dari Ternate hingga bandar Surat di Teluk Arab, Sebagai sebuah kota pelabuhan transit international, Batavia dengan pelabuhan Sunda Kelapanya dapat men-suplay berbagai daerah Nusantara maupun negara di Asia lainnya (seperti Cina dan India) dengan komoditas perdagangan seperti kain, sutra, teh, kopi, tembakau, rempah-rempah, arak(tuak) serta berbagai jenis keramik.

Kejayaan Pelabuhan Sunda Kelapa inilah yang secara langsung menjadi faktor utama pesatnya Batavia di masa kekuasaan VOC. Tidak hanya itu, dengan adanya Sunda kelapa ini, Batavia juga ikut membantu kemajuan perekonomiam Belanda.

Setiap tahunnya Batavia mengiriman pemasukan dalam jumlah cukup besar yitu 4 juta Gilders ke Belanda. Berkat pelabuhan ini pula, Batavia berkembang menjadi kota yang maju, banyak para pengusaha yang menjadi kaya di kota ini. Dengan kanal-kanalnya yang dialiri air yang jernih serta bangunan-bangunan indah dan megah yang mengisi kota, membuat Batavia memiliki julukan Ratu dari Timur (Koningen van Het Oosten) dan menjadi daya tarik tersendiri bagi negara-neara lain khususnya negara-negara di Eropa untuk datang dan berkunjung ke Batavia seperti Inggirs, Perancis dan negara-negara Skandinavia seperti Swedia, pada tahun 1732-1733 dengan kapal Gothebord dalam pelayaran pertamanya menuju Canton (Cina) tertarik untuk singgah di Batavia.

05-img_9456

12-img_9499Arsitektur bangunan disini sama seperti arsitektur di Belanda pada masanya

09-img_9490

10-img_9492
Ciri khas arsitektur Belanda pada masa itu, dengan dinding tebal dan jendela kayu yang cukup besar

13-img_9510

15-img_9521

16-img_9525

img_9508

img_9514

Museum Bahari berada di

petamuseumbahari

2 Comments
  • Bablofil

    Reply

    Thanks, great article.

    • ceritafoto

      Ur welcome, Thanks

Leave a Comment